Upaya Penanggulangan
1. Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan
permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ
(atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-siteadalah
pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri
dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi
penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah
itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya
yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih
dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar
dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan
off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
2. Bioremediasi
Bioremediasi adalah
proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar
menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai
bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat
berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan
langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan
berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme
bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan sebagainya.
Pencegahan Pencemaran Air Tanah
Pada dasarnya ada tiga cara yang dapat dilakukan
dalam rangka pencegahan pencemaran lingkungan, yaitu:
1. Secara Administratif
Upaya pencegahan pencemaran lingkungan secara
administratif adalah pencegahan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh
pemerintah dengan cara mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang berhubungan
dengan lingkungan hidup. Contohnya adalah dengan keluarnya undang-undang
tentang pokok-pokok pengelolaan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh presiden
Republik Indonesia pada tanggal 11 Maret 1982. Dengan adanya AMDAL sebelum
adanya proyek pembangunan pabrik dan proyek yang lainnya. Selain itu, perlu adanya
sanksi yang tegas serta pengawasan dari pihak pemerintah.
2. Secara Teknologis
Cara ini ditempuh dengan mewajibkan pabrik untuk
memiliki unit pengolahan limbah sendiri. Sebelum limbah pabrik dibuang ke
lingkungan, pabrik wajib mengolah limbah tersebut terlebih dahulu sehingga
menjadi zat yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Hal yang paling sederhana
adalah membuat biopori.
Biopori adalah metode resapan air yang ditujukan
untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah.
Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir R Brata, salah satu peneliti
dari Institut Pertanian Bogor. Peningkatan daya
resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya
dengan sampah organikuntuk menghasilkan kompos.
Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah,
yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah.
Teknologi berbasis 3R yaitu Reduce, Recycle, dan
Reuse pun dapat dilakukan. Reduce artinya mengurangi, maksudnya masyarakat
dihimbau untuk mengurangi penggunaan air sehingga eksploitasi air tanah dapat
diminimalisir, setelah penggunaan air tanah dapat dikurangi, saatnya limbah
hasil pembuangan masyarakat diolah kembali dengan metoda recycle. Banyak cara yang
dapat dilakukan, salah satunya dengan membuat bak penampungan kemudian
dilakukan pemfilteran air. Setelah dinyatakan layak, air tersebut dapat
digunakan kemabali (reuse).
3. Secara Edukatif
Cara ini ditempuh dengan melakukan penyuluhan
terhadap masyarakat akan pentingnya lingkungan dan betapa bahayanya pencemaran
lingkungan. Selain itu, dapat dilakukan melalui jalur pendidikan-pendidikan
formal atau sekolah.( ahmad cecep sofyan Hariri, 2010 Biologi). Misalnya
seminar tentang pentingnya untuk mengatasi krisis air tanah.
Selain ketiga cara diatas, dapat dilakukan
penanaman rumput vetiver. Rumpur vertiver (Chrysopogon zizaniodes)
digunakan sebagai alternative solusi. Selain untuk mencegah erosi, vertiver
juga dapat menyaring air berpolusi (seperti timah hitam), perbaikan lahan,
serta peningkatan kualitas air. Tinggi tanaman mencapai dua meter, sedangkan
akar yang vertikal tumbuh ke bawah mencapai hingga 4,5 meter dan berfungsi
mengikat tanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar