Minggu, 21 Mei 2017

Kasus Pencemaran Air di Beberapa Lingkungan Perairan dan Lahan Perikanan Air tawar di Daerah Sukabumi, Jawa Barat



Dewasa ini penggunaan pestisida merupakan suatu hal yang sulit dipisahkan dengan kegiatan pertanian khususnya dalam budidaya tanaman padi di sawah guna meningkatkan produk baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sifat penting yang dimiliki pestisida adalah daya racun atau toksisitas. Meski bahan kimia tersebut hanya dimaksudkan untuk mematikan suatu jenis hama tertentu tetapi pada hakekatnya bersifat racun untuk semua mahluk hidup. Hampir semua jenis pestisida tidak bersifat selektif dan mempunyai spektrum yang luas sebagai racun sehingga merupakan sumber pencemaran yang potensial khususnya bagi sumberdaya dan lingkungan perairan.

Pestisida yang digunakan pada lahan pertanian sawah, terutama pada awal musim tanam sebagian atau bahkan seluruhnya akan jatuh dan masuk ke dalam air sehingga mencemari perairan.
Dewasa ini penggunaan pestisida dalam aktivitas pertanian, terutama tanaman padi di lahan sawah, bagi petani di Daerah Sukabumi, Jawa Barat telah menjadi
“suatu keharusan” karena merupakan salah satu usaha dalam intensifikasi pertanian. Langkah ini dinilai cukup efektif dan ekonomis dalam mengendalikan jasad pengganggu tanaman bahkan untuk melindungi produk pertanian yang disimpan.

Gambar 1. Penggunaan pestisida di sawah pada awal
musim tanam padi
Pestisida yang paling ideal adalah bersifat khusus yang dapat digunakan secara selektif terhadap hama sasaran saja, namun di seluruh dunia belum dijumpai pestisida yang demikian. Kebanyakan pestisida yang ada sebetulnya tidak bersifat selektif karena pestisida digunakan pada suatu ekosistem yang rumit dan kompleks maka setiap pemakaian pestisida dapat membunuh organisme bukan sasaran atau paling tidak mengganggu kehidupannya (Kadarsan, 1977). Oleh karena itu, penggunaan pestisida seharusnya dilakukan sebagai tindakan terakhir apabila sudah tidak ada lagi cara lain yang lebih aman, sehingga kita akan terhindar dari dampak negatifnya serta dapat memperlakukan alam dengan lebih bijaksana. Perairan yang tercemar oleh residu pestisida apabila telah mencapai konsentrasi tertentu akan sangat berpengaruh terhadap lingkungan dan organisme akuatik yang hidup di dalamnya. Ikan yang hidup dalam lingkungan perairan yang tercemar pestisida akan menyerap bahan aktif pestisida tersebut dan tersimpan dalam tubuh, karena ikan merupakan akumulator yang baik bagi berbagai jenis pestisida terutama yang bersifat lipofilik (mudah terikat dalam jaringan lemak).

Kasus ini diteliti di beberapa lingkungan perairan dan lahan perikanan air tawar di Daerah Sukabumi, Jawa Barat

Pencemaran Air Akibat Limbah Pertanian
Sumber-sumber pencemaran air dapat berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, limbah pertambangan minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak, atau sampah-sampah organik. Limbah-limbah tersebut masuk ke lingkungan air dan mengganggu keseimbangan dinamisnya. Pencemaran air juga disebabkan oleh limbah pertanian, misalnya sisa pemakaian pupuk buatan, pestisida, dan herbisida yang berlebihan.
Limbah Pertanian diartikan sebagai bahan yang dibuang di sektor pertanian, misalnya sabu, tempurung, kelapa, jerami, dedak, padi, kulit, tulang pada ternak potong serta jeroan & darah pada ikan. Secara garis besar limbah pertanian dibagi ke dalam limbah pra serta limbah pasca panen.

Limbah pertanian terbagi atas dua kelompok yaitu :

      1.      Limbah pertanian pra
limbah pertanian pra panen yaitu materi-materi biologi yang terkumpul sebelum atau sementara hasil utamanya diambil. Sebagai contoh daun, ranting, atau daun yang gugur sengaja atau tidak biasanya dikumpulkan sebagai sampah dan ditangani umumnya hanya dibakar saja.

2.      Limbah pertanian panen
Limbah pertanian saat panen cukup banyak berlimpah. Golongan tanaman serealia misalnya yang populer di Indonesia antara lain batang atau jerami saat panen padi,  jagung, dan mungkin sorgum.

Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industry, pertambangan,dll. Kehadiran limbah pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.

Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia, orang yang memakannya akan keracunan. Jangan membuang sisa obat ke sungai. Pada bendungan,  pupuk organik yang larut dalam air dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan mengancam kelestarian bendungan. bendungan akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.

Pencemaran perairan salah satunya juga dapat diakibatkan oleh adanya limbah yang berasal dari pertanian misalnya sisa pemakaian pupuk buatan, pestisida dan herbisida yang berlebihan. Polutan tersebut nantinya akan mengalir ke luar persawahan, terbawa sampai ke sungai dan menyebabkan matinya organisme air seperti ikan dan plankton. Pupuk yang ikut masuk ke aliran danau atau sungai akhirnya akan mengakibatkan blooming alga atau pertumbuhan yang sangat cepat akibat terdapat penimbunan pupuk di perairan.

Penimbunan pupuk yang terjadi ini sering disebut dengan eutrofikasi. Hal ini pernah terjadi pada danau Rawa Pening, Jawa Tengah atau di tempat – tempat lain di Indonesia. Contoh limbah pertanian yang lain yang jga dapat mengakibatkan terjadinya pendangkalan adalah DDT (Dichloro dipenyl trichloroethan) yaitu sejenis pestisida.

Jenis dan wujud  limbah pertanian

Berdasarkan jenis dan wujud limbah pertanian terutama limbah industri pertanian dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu :

(a). Limbah padat
(b). Limbah cair
(c). Limbah gas.

a. Limbah Padat
Bahan-bahan buangan baik dari limbah pra panen, limbah panen, limbah pasca panen dan limbah industri pertanian yang wujudnya padat dikelompokkan pada limbah padat, contoh : Daun-daun kering, jerami, sabut dan tempurung kelapa, kulit dan tulang dari ternak
potong, bulu ayam, ampas tahu, jeroan ikan dan lain sebagainya. Limbah-limbah tersebut di atas kalau dibiarkan menumpuk saja tanpa penanganan tertentu akan menyebabkan/menimbulkan keadaan tidak higienis karena menarik serangga (lalat,kecoa) dan tikus yang seringkali merupakan pembawa berbagai jenis kuman penyakit. Limbah padat dapat diolah menjadi pupuk dan makanan ternak.

b. Limbah cair
Limbah cair industri pertanian sangat banyak karena air digunakan untuk :
1). membersihkan bahan pangan dan peralatan pengolahan.
2). menghanyutkan bahan-bahan yang tidak dikehendaki (kotoran).

Limbah cair yang berasal dari industri pertanian banyak mengandung
bahan-bahan organik (karbohidrat, lemak dan protein) karena itu mudah sekali busuk dengan menimbulkan masalah polusi udara (bau) dan polusi air.

Pengelolaan limbah cair yang umum dilakukan adalah perlakuan primer, sekunder dan tersier (penjelasannya pada pokok bahasan mengelola limbah secara fisik).

c. Limbah gas

Limbah gas adalah limbah berupa gas yang dikeluarkan pada saat pengolahan hasil-hasil pertanian, misalnya gas yang timbul berupa uap air pada proses pengurangan kadar air selama proses pelayuan teh dan proses pengeringannya. Limbah gas ini supaya tidak menimbulkan bahaya harus disalurkan lewat cerobong.


Sifat-sifat limbah pertanian

Dari ketiga jenis/wujud limbah pertanian, limbah jenis cair yang perlu
diketahui sifat-sifatnya supaya penanganannya limbah cair tersebut dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Jadi dalam modul ini hanya dibahas
sifat-sifat limbah cair yang dihasilkan dari industri pertanian.
Sifat-sifat limbah cair industri pertanian dibedakan menjadi tiga bagian besar
yaitu :
1). Sifat Fisik
2). Sifat Kimia
3). Sifat Biologis.

1.    Sifat Fisik

Sifat-sifat fisik yang umum diuji pada limbah cair adalah :
1. Nilai pH, keasaman alkalinitas
2. Suhu
3. Warna, bau dan rasa
4. Jumlah padatan
5. Nilai BOD/COD
6. Pencemaran mikroorganisme patogen
7. Kandungan minyak
8. Kandungan logam berat
9. Kandungan bahan radioaktif

2.    Sifat Kimia
    
Kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat merugikan lingkungan melalui berbagai cara. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada penyediaan air bersih. Selain itu, akan lebih berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan yang beracun.
Bahan-bahan organik yang umumnya terkandung pada limbah cair adalah karbohidrat, protein dan lemak.

3.    Sifat Biologis
Pemeriksaan biologis (mikroorganisme) di dalam limbah cair untuk memisahkan apakah ada bakteri-bakteri patogen dalam limbah cair supaya sebel limbah cair dibuang ke perairan harus dilakukan perlakuan tertentu sampai bakteri-bakteri tersebut mati.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar